Sejarah Batik Pekalongan Secara Singkat

Sejarah Batik Pekalongan
Tidak ada yang tahu pasti kapan batik pekalongan mulai di launching, (inilah mengapa sejarah batik pekalongan dijelaskan secara singkat bahkan wikipedia pun tidak menyuguhkan informasi ini) hanya menurut perkiraan saja pada tahun 1800-an batik sudah mulai ada di Pekalongan. Data ini diperkuat dengan informasi dari Disperindag yang menyatakan batik dengan motif/ pola yang sangat sederhana sudah ada pada tahun 1802.


Perkembangan batik pekalongan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor sesuai dengan kondisi dan keadaan waktu tertentu. Inilah yang menyebabkan batik memiliki banyak motif sampai sekarang, meskipun begitu motif awal dengan pakem/ aturan-aturan tertentu masih tetap dipertahankan demi menjaga dan menghargai keaslian dan kesakralan batik itu sendiri.

Beberapa faktor yang cukup mempengaruhi motif batik Pekalongan antara lain :

Pengaruh Kerajaan

Berawal dari terjadinya perang di Kerajaan Mataram pada tahun 1825-1830, yang lebih dikenal dengan perang Diponegoro atau perang Jawa, memaksa keluarga kraton beserta "abdi dalem" untuk meninggalkan wilayah kerajaan.

Mereka menyebar ke berbagai daerah di Jawa dan mengembangkan batik di masing-masing daerah tersebut termasuk di Pekalongan. Batik Pekalongan yang memang sudah ada pada waktu itu, dengan saudagar batik yang sudah ternama yaitu Nyai Singobarong, menjadi semakin berkembang akibat perpaduan dari keduanya.

Baca juga : Sejarah Batik Solo/ Surakarta

Pengaruh Budaya Negara Lain

Pada masa penjajahan, silih berganti bangsa asing yang berada di Indonesia (seperti orang Indo-Eropa, Arab, Tiongkok, Jepang dll) ternyata juga membawa dampak bagi perkembangan batik, termasuk batik Pekalongan itu sendiri. Pengaruh dari budaya dari negara lain tersebut tampak pada desain, pola dan tata warna pada batik Pekalongan.

Beberapa jenis pola/ motif batik yang berpadu dengan budaya negara-negara luar dan menjadi identitas atau ciri khas motif batik Pekalongan antara lain, Batik Jlamprang yang dipengaruhi negara asia serta Arab, Batik Encim dan Klengenan dipengaruhi budaya peranakan Tiongkok dan Batik Belanda, batik Hokokai dan batik Pagi Sore dipengaruhi oleh budaya Jepang saat pendudukannya di Indonesia.

Perkembangan batik dari masa ke masa dengan pengaruh-pengaruh diatas menunjukkan bahwa batik merupakan kesenian yang sangat fleksibel dalam berpadu dengan hal-hal baru.

Meskipun mengalami pasang-surut dalam perkembangannya, namun batik Pekalongan masih tetap mampu bertahan dan terus eksis karena batik Pekalongan tidak di monopoli oleh segelintir orang. Batik Pekalongan bertumpu pada ratusan pengusaha kecil dan menjadi usaha rumahan, sehingga sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Pekalongan sejak dahulu.

Sampai saat ini, hal tersebut masih bertahan sehingga bisa dibilang usaha batik merupakan denyut nadi warga Pekalongan.

Tidak berhenti disitu, ketika booming sepakbola. Batik Pekalongan pun ikut menjadi trend dengan membuat desain batik yang disandingakan dengan logo klub-klub sepakbola dunia yang terkenal. Kembali kelenturan batik Pekalongan dibuktikan bisa menerima perkembangan jaman.

Lalu, inovasi dari putra asli Pekalongan juga berhasil meng-kreasi-kan batik yang di aplikasikan pada bahan jeans dan lebih dikenal dengan nama batik jeans. Sempat mencuri perhatian dalam lima tahun terakhir, namun justru pemasarannya lebih banyak diluar negeri karena harga yang masih cukup tinggi yang diakibatkan dari prosesnya yang masih sangat sulit bila dibandingkan dengan proses pembuatan batik dengan menggunakan bahan kain biasa. 

Dari sejarah panjang diatas itulah mengapa Pekalongan mendapat julukan "kota batik" dan akhirnya mendapat pengakuan dunia. Sebuah prestasi yang sangat luar biasa, semoga batik Pekalongan akan tetap eksis dan berjaya pada masa-masa yang akan datang.
LihatTutupKomentar